Selasa, 08 November 2016

Apa Kabar Aqidah Kita ??? (Bagian 2)






Ikhwatal Islam
Pada postingan sebelumnya kita telah mengkaji apa itu aqidah dan alasan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dan Nabi serta Rasul yang lainnya memprioritaskan aqidah pada dakwah mereka. Untuk yang belum sempat menyimaknya, atau ingin mengingat kembali materi tersebut, bisa langsung menuju ke link Apa Kabar Aqidah Kita ??? (Bagian 1)

Pada postingan ini, kita akan melanjutkan pembahasan di postingan Apa Kabar Aqidah Kita ??? (Bagian 1). Kita masuk ke masalah sebab-sebab penyimpangan aqidah.
Sekali lagi kami ingatkan kepada para pembaca untuk MENYIAPKAN MUSHAF TERLEBIH DAHULU SEBELUM MEMBACA POSTINGAN INI. Tujuannya tidak lain agar para pembaca dapat langsung tabayyun atau kroscek dari sumbernya langsung, sehingga TIDAK ADA PEMBODOHAN ATAU PENYELEWANGAN ATAU KORUPSI DALIL dalam hal ini, seperti yang banyak dituduhkan oleh orang lain. Mushaf yang kita pegang sama, sedangkan penafsiran yang digunakan merujuk pada penafsiran para sahabat dan ulama terdahulu yang jauh lebih dalam keilmuannya dan lebih terjaga dibandingkan penafsiran subjektif yang dilontarkan beberapa oknum saat ini. Para  pembaca sekarang menjadi saksi bagi kami atas sikap waspada dan takut kami dalam menyajikan ilmu yang paling mulia di dunia ini, yaitu Ilmu Islam.

Perihal aqidah adalah masalah yang tidak akan pernah bisa ditawar lagi dalam Islam. Bila perbedaan dalam hal Fikih adalah suatu keniscayaan dan rahmat selama masih ada dalil yang shahih, maka perbedaan aqidah dan tauhid adalah sebuah bencana atau musibah, dan itu adalah sebagian dari adzab yang Allah timpakan kepada manusia yang lalai.

Lantas, ada beberapa hal yang menyebabkan seseorang mengalami penyimpangan aqidah. Beberapa di antaranya yaitu:

    1. Kebodohan. Hal ini dapat terjadi karena seseorang tidak mempelajarinya baik disengaja atau tidak, tidak ada yang mau mengajarkan atau mendakwahkannya atau memang karena belum sampainya penyampaian kepada orang tersebut. Semua itu terjadi lantaran karena kurangnya perhatian seseorang akan makna aqidah yang lurus. Dan hal ini amat berbahaya bagi sebuah generasi, dimana kebodohan akan menjadi pintu awal kebinasaan. Sebagaimana perkataan Umar radhiyallahu 'anhu, "Jalinan agama Islam itu akan terurai satu persatu, bila di kalangan umat Islam tumbuh generasi yang tidak mengerti hakikat jahiliyah."
    2. Fanatik (ta'asshub) Kepada Aqidah Yang Bathil. Banyak orang yang fanatik kepada adat istiadat, ajaran nenek moyangnya, atau ajaran suatu tokoh masyarakat yang dianggap dapat menjadi panutan baginya, padahal sesungguhnya perbuatannya sesat lagi menyesatkan. Orang-orang seperti ini, apabila didatangkan sebuah dalil yang bertentangan dengan apa yang mereka yakini, tanpa berpikir kritis terlebih dahulu, langsung menentang bahkan memusuhi orang yang mendakwahkannya. Tidak jarang pula mereka melemparkan fitnah-fitnah keji kepada si da'i dan para ulama yang berseberangan dengan mereka. Sungguh keadaan ini mirip dengan kejadian pada masa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, dan Allah mengabadikannya  dalam Al Quran Surat Al Baqarah (2) ayat 170.
    3. Taklid Buta (ikut-ikutan tanpa tahu landasan dalilnya). Jelas berbahaya sekali sifat ini. Inilah yang menimpa sekian banyak kelompok-kelompok sempalan yang murahan seperti kaum Jahmiyah, Mu'tazilah dan kaum-kaum lain yang sejenis dengan mereka. Mereka mengambil perkataan dan hujjah tokoh-tokoh yang mereka anggap panutan tanpa menelitinya terlebih dahulu dari mana sumbernya dan bagaimana kekuatan hujjahnya. Banyak pernyataan "guru kita sudah lebih pengalaman dan lebih lama belajarnya dari kita, jelas mereka lebih paham daripada kita yang awam.". Maka disini kami katakan pernyataan tersebut adalah pemahaman murahan yang dimiliki para budak-budak orang romawi dan persia. Manusia bermental budak dan kacung, akan dengan sukarela mengikuti perkataan majikan atau seniornya tanpa meneliti terlebih dahulu dan menimbangnya dengan hati. Padahal orang yang dianggap panutannya itu sesat lagi menyesatkan. 
    4. Ghuluw (berlebih-lebihan) Dalam Menghormati Seseorang. Bahkan ada yang meyanjungnya dan mengangkatnya melebihi derajat manusia. Sampai ada yang meyakini bahwa orang itu adalah Nabi, atau orang sakti dan mengetahui perkara ghaib. Tatkala orang itu meninggal, ramailah kuburannya dikunjungi orang, bukan untuk berziarah secara syar'i, akan tetapi melakukan ritual-ritual yang sesat dan syirik. Meminta-minta, ngalap berkah dikuburan, mengais-ngais dan membawa pulang tanah kuburannya dengan keyakinan hal tersebut dapat mendatangkan manfaat baginya. Ini semua adalah perbuatan yang terlaknat. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Allah melaknat kaum Yahudi dan Nasrani karena  mereka menjadikan kubur-kubur Nabi mereka sebagai tempat ibadah."
    5. Jauh Dari Majelis Ilmu Yang Lurus. Telah tersibukkan dengan urusan dunia, urusan bisnis, urusan perut dan kemaluan, hingga lalai dalam memahami ayat-ayat Allah, baik yang kauniyah maupun qur'aniyah. Orang-orang ini amat sombong kepada orang lain. Dijelaskan dalam Al Qur'an Surat Al Qashash ayat 78. Padahal Allah lah yang memberikan mereka nikmat dan rahmat sehingga mereka dapat merasakan manisnya dunia, sebagaimana dijelaskan dalam Surat Ash Shaffaat ayat 96. Maka orang yang demikian ini akan ditimpakan istidraj (penundaan azab) oleh Allah. Na'udzubillah.
    6. Hilangnya Peran Keluarga dan Merebaknya Media Informasi Yang Rusak. Semestinya keluarga adalah madrasah pertama bagi setiap manusia untuk membentuk aqidah dan akhlak yang mumpuni sebelum terjun ke masyarakat.  Namun bila peran keluarga tidak lagi dijalankan sebagaimana mestinya, maka akan muncullah generasi-generasi biadab yang moralnya bobrok. Mereka adalah hasil didikan televisi, hasil didikan paham-paham negara barat yang menyesatkan dan menyimpang. Alhasil, mereka jadikan orang-orang yang tidak pantas menjadi idola mereka, dan mereka tiru gaya hidup maupun tingkah lakunya, yang jelas jauh dari nilai Islam.. Ditambah lagi makin merebaknya media informasi yang rusak, hanya menayangkan acara-acara yang sama sekali tidak bermutu, bahkan merusak moral bangsa. Mereka hanya melihat rating tanpa menimbang efek buruk bagi masyarakat. Menciptakan berbagai macam acara dan film bertemakan Islam, namun menjelek-jelekkan Islam. Inilah ciri orang munafik, dan inilah musuh-musuh Allah.

Ikhwatal Islam
Jelas sekali bagaimana sebab-sebab penyimpangan aqidah dapat terjadi karena fenomena tersebut seakan familiar di mata kita. Lalu, bagaimana keadaan aqidah kita saat ini ???

Ada cara untuk mengukur kadar aqidah yang ada dalam diri kita. Beberapa cara itu di antaranya:
  1. Ukurlah aqidah kita saat kita jauh dari orang lain, saat kita berada betul-betul hanya seorang diri, sedangkan fasilitas untuk berbuat maksiat amat banyak. Saat kita sendirian dan dihadapkan pada maksiat dan syahwat, maka disitu kita bisa mengukur seberapa kuatkah aqidah kita. Contohnya saat kita sendirian di rumah, lalu ada laptop atau HP yang canggih, ditambah ada fasilitas internet yang memadai, pada saat yang seperti itu amat menunjang untuk berbuat maksiat. Kita berpotensi menonton yang tidak pantas, melakukan hal-hal yang diharamkan oleh Islam dan banyak hal bebas kita lakukan. Namun jika aqidah kita sudah kuat dan lurus, hal-hal yang berbau maksiat tidak akan kita lakukan dan bahkan kita jauhi. Saat sendirian asyik beribadah, menangis dan memohon kepada Allah, karena dia merasa seakan lebih dekat kepada Allah dan lebih bebas menanjatkan keluh kesahnya di saat seperti itu.
  2. Bagaimana ijabah kita pada panggilan atau seruan Allah. Saat adzan berkumandang, apakah kita langsung memenuhinya, atau malah menunda-nunda. Saat memiliki kelebihan harta, apakah kita mengingat Allah dengan menyedekahkannya atau malah ketakutan harta kita akan habis bila disedekahkan dan lebih banyak mengingat belanja untuk memenuhi hawa nafsu. Atau di saat ada syari'at Islam yang tidak sesuai dengan hawa nafsunya, bagaimana kita menanggapi dan menunaikannya. Maka aqidah kita yang akan berbicara, dan kita pun dapat mengukur kadar aqidah kita.

Dan terakhir, bagaimana cara kita mengokohkan dan memperkuat aqidah kita???
Insya Allah akan dibahas pada postingan selanjutnya.
Wallahu a'lam bishawab
(Bersambung Insya Allah)

0 komentar

Posting Komentar